baca part 1
Mamat bingung, entah harus berkata apa agar Nana mengerti maksud baiknya.
"Na, kamu salah paham. Maksud aku ma temen-temen baik kok," ujar Mamat sembari memegang pipinya yang merah ditampar.
"Na, kamu salah paham. Maksud aku ma temen-temen baik kok," ujar Mamat sembari memegang pipinya yang merah ditampar.
"terus atas ijin siapa kalian bikin acara begini?"
Mamat terdiam dan menunduk.
"kamu kan biang nya? Kamu sih biasa diketawain sama yang lain. Tapi aku? Kamu pikir ga gimana perasaan aku?" Nana meninggikan nada suaranya, "pokoknya sekarang kamu berhenti dan balikin semua uang yg udah kamu terima. Dan jangan pernah bawa-bawa nama aku, apapun yang mau kamu lakuin".
Mamat terdiam dan menunduk.
"kamu kan biang nya? Kamu sih biasa diketawain sama yang lain. Tapi aku? Kamu pikir ga gimana perasaan aku?" Nana meninggikan nada suaranya, "pokoknya sekarang kamu berhenti dan balikin semua uang yg udah kamu terima. Dan jangan pernah bawa-bawa nama aku, apapun yang mau kamu lakuin".
Nana lantas meninggalkan Mamat yg berdiri terpaku.
Sepeninggal Nana, Mamat langsung terduduk lemas. Ia sedih, karena maksud baiknya ditolak mentah-mentah.
Sepeninggal Nana, Mamat langsung terduduk lemas. Ia sedih, karena maksud baiknya ditolak mentah-mentah.
Tak lama, teman segenk Mamat menghampiri. Mereka iba melihat sahabatnya itu. Mereka juga ikut membisu dan hanya bisa menepuk-nepuk bahu Mamat, memberinya kesabaran.
"yang sabar ya, Mat"
***
(seminggu kemudian)
(warung makan lantai dua)
(malam hari)
Nana sedang belajar untuk ujiannya, di meja lipat yang biasa anak TK pakai dan dibantu oleh lampu meja. Karena lampu ruangan sudah dimatikan. Sementara, di sebelahnya, sang ayah sedang terbaring tidur di lantai beralas kasur tipis.
Nana masih harus rela berdesakan tinggal di lantai dua warung makannya yang hanya berukuran 4m x 4m, dipotong dengan kamar mandi dan perabotan.
Tapi Nana tidak mengeluh apapun, apalagi melihat bagaimana ayahnya sangat bekerja keras agar dapat tetap menghidupinya dan juga untuk merenovasi rumahnya yang terbakar.
*
(keesokan paginya)
Nana setidaknya bisa menikmati sarapan yang lezat buatan ayahnya, Pak Munir, setiap pagi.
"Na,,"
"iya, apa?"
"Na, kamu mau ga ngekost?"
Nana seketika menghentikan suapannya. Ia menatap Pak Munir.
"kamu bentar lagi ujian nasional. Kalo kamu tinggal di tempat kaya begini, nanti belajarnya gak bener," Pak Munir menjelaskan, "jadi sebaiknya kamu kost aja dulu".
"Terus Ayah gimana?"tanya Nana.
"ya, Ayah sih di sini aja. Sambil jaga warung," jawab Pak Munir, "kamu biar lebih konsentrasi lagi belajarnya, gak keganggu sama ayah".
"ayah udah cari kost yang deket sama sekolah kamu, dan kebetulan yang punya juga temen ayah. Jadi, kamu ga usah khawatir. Nanti ayah bakal sering jengukin, sambil ngecek renovasian rumah," lanjut Pak Munir.
Nana tidak membantah, karena ia mengerti betul keputusan ayahnya ini.
(bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar