Kamis, 17 Desember 2015

Dikalahin gadget

Kemajuan teknologi dan informasi sekarang aduhai pesatnya.
Sosial media dan berbagai messenger bertebaran.
Smartphone jadi media pembukanya.

Dulu jaman belum kenal android, hp cuman sekadar buat telepon dan sms.
Waktu luang bisa jadi completely quality time sama sahabat dan keluarga. Alhasil komunikasi berjalan lancar.

Sekarang sudah kenal smartphone, tujuan semestinya semakin mempermudah komunikasi. Tapi... ironis kenyataannya.

Semisal saja saat makan bersama. Biasanya, diselingi obrolan ringan yg menambah nikmatnya suasana makan. Tapi kini, tangan kanan pegang sendok, tangan kiri scroll hp dan mata terarah ke layar hp.

Obrolan ringan?? Jangan banyak berharap.

Bangun tidur, yang dicari pertama pasti hp. Cek notifikasi.

Bahkan sambil hp di charge pun, sulit terlepas.

Entah apa yg dia dapat dari itu semua. Seakan terhinoptis, dan jadi autis terhadap sekitarnya.

Setelah lelah dengan aktifitas rumah tangga, inginnya istirahat melepas lelah dengan bercengkrama, mengobrol tentang apapun itu. Menikmati suasana kebersamaan itu obat mujarab dari seharian lelah. Tapi kenyataanya, meski aku disampingnya, menyandarkan kepalaku di pundaknya, tatapannya tak lepas dr layar hpnya.
Dan jika aku mengeluhkan soal itu, yang ada aku yg dimarahi.

Seandainya smartphone itu bisa juga menggantikanku untuk mengurus rumah, menyediakan makanan, mencuci baju dan menggantikan perhatianku padanya. Tak apa.

Tapi kenyataanya, semua kewajiban itu masih harus aku lakukan sendiri, sementara hakku terenggut oleh kecanggihan smartphone