Sebagai siswi yang memiliki predikat bintang pelajar, julukan si jenius Nana, dan cukup populer di kalangan para siswa membuatnya tidak memiliki banyak teman sesama siswi. Sehingga Nana tampak seperti penyendiri.
Untungnya Nana termasuk tipe orang yang tidak suka mengambil pusing hal-hal seperti itu, ia cukup nyaman dengan kondisinya tersebut, toh dibalik kesepiannya di sekolah, ia memiliki seorang ayah yang sangat menyayanginya dan hidup tanpa kekurangan pula.
Suatu hari tanpa disangka, terjadi musibah pada rumah Nana. Rumahnya ikut terlalap api saat rumah tetangga sebelahnya mengalami kebakaran, meski hanya sebagian yang terbakar, tetapi Nana dan ayahnya tidak bisa lagi tinggal di rumah kesayangannya tersebut. Dengan berat hati tapi tetap ikhlas, Nana dan Pak Sanusi sementara tinggal di lantai dua warung makan sunda milik mereka yang letaknya agak jauh dari sekolah Nana.
Pagi di sekolah...
Mamat and the gank membuat aksi yang menarik perhatian seisi kantin. Mereka membentangkan spanduk bertuliskan "Peduli Nana", dan dengan pengeras suara, Mamat berorasi ke seluruh pengunjung kantin. Ada yang hanya tertawa melihat tingkah lucu Mamat dan kawan-kawan, tapi ada juga yang ikut menyumbangkan uang ke dalam kotak yang telah Mamat cs sediakan.
Nana turun dari angkot di depan pintu gerbang sekolahnya, dengan sikap acuh seperti biasanya. Tapi kali ini, keacuhannya tidak berlangsung lama ketika ia menyadari semua anak yang melihatnya akan memandang dengan tatapan aneh dan saling berbisik-bisik.
Firman, ketua OSIS yang naksir Nana, menghampiri.
" Nana? aku pikir kamu ga bakal masuk dulu? "
" kenapa musti ga masuk? "
" bukannya baru kena musibah? rumahmu kebakaran kan? "
" kamu tau dari mana? "
" aku tau dari berita lokal "
" oh, pantas dari tadi diliatin ma yg laen. Ternyata ada di berita "
" yang laen? aku rasa mereka bukan tau dari berita sepertiku "
" terus... Kamu yang jasih tau mereka? "
Firman menggeleng, " Mamat tuh"
" Mamat? "
" dia lagi di kantin, galang dana buat kamu "
mendengarnya, air muka Nana berubah, ia seperti menahan marah. dan dengan langkah penuh emosi ia berjalan menuju kantin diikuti oleh Firman.
Langkah Nana terhenti, tubuhnya berdiri terpaku melihat Mamat dengan pengeras suara berorasi tentang musibah kebakaran yang dialaminya. Mamat melihat Nana yang datang dan dengan segera menghampiri Nana yang mukanya sudah merah dan nafasnya tidak teratur karena marah dan malu.
Nana menarik paksa Mamat keluar dari kantin, dan membawanya ke belakang sekolah.
Pagi di sekolah...
Mamat and the gank membuat aksi yang menarik perhatian seisi kantin. Mereka membentangkan spanduk bertuliskan "Peduli Nana", dan dengan pengeras suara, Mamat berorasi ke seluruh pengunjung kantin. Ada yang hanya tertawa melihat tingkah lucu Mamat dan kawan-kawan, tapi ada juga yang ikut menyumbangkan uang ke dalam kotak yang telah Mamat cs sediakan.
Nana turun dari angkot di depan pintu gerbang sekolahnya, dengan sikap acuh seperti biasanya. Tapi kali ini, keacuhannya tidak berlangsung lama ketika ia menyadari semua anak yang melihatnya akan memandang dengan tatapan aneh dan saling berbisik-bisik.
Firman, ketua OSIS yang naksir Nana, menghampiri.
" Nana? aku pikir kamu ga bakal masuk dulu? "
" kenapa musti ga masuk? "
" bukannya baru kena musibah? rumahmu kebakaran kan? "
" kamu tau dari mana? "
" aku tau dari berita lokal "
" oh, pantas dari tadi diliatin ma yg laen. Ternyata ada di berita "
" yang laen? aku rasa mereka bukan tau dari berita sepertiku "
" terus... Kamu yang jasih tau mereka? "
Firman menggeleng, " Mamat tuh"
" Mamat? "
" dia lagi di kantin, galang dana buat kamu "
mendengarnya, air muka Nana berubah, ia seperti menahan marah. dan dengan langkah penuh emosi ia berjalan menuju kantin diikuti oleh Firman.
Langkah Nana terhenti, tubuhnya berdiri terpaku melihat Mamat dengan pengeras suara berorasi tentang musibah kebakaran yang dialaminya. Mamat melihat Nana yang datang dan dengan segera menghampiri Nana yang mukanya sudah merah dan nafasnya tidak teratur karena marah dan malu.
Nana menarik paksa Mamat keluar dari kantin, dan membawanya ke belakang sekolah.
Plak!!
Tangan kanan Nana melayang dan mendarat tepat di pipi kiri Mamat, meninggalkan bekas merah. Mamat sama sekali tidak marah, tapi pertanyaan besar muncul dibenaknya atas sikap Nana yang tiba-tiba
" apa aku terlihat begitu menyedihkan?!! "
" Nana ..."
" meski saat ini aku tidak bisa tinggal di rumahku, tapi aku belum sampai jadi pengemis! dan yang kamu lakukan sekarang bikin aku keliatan seperti gelandangan yang mengemis belas kasihan orang-orang "
Tangan kanan Nana melayang dan mendarat tepat di pipi kiri Mamat, meninggalkan bekas merah. Mamat sama sekali tidak marah, tapi pertanyaan besar muncul dibenaknya atas sikap Nana yang tiba-tiba
" apa aku terlihat begitu menyedihkan?!! "
" Nana ..."
" meski saat ini aku tidak bisa tinggal di rumahku, tapi aku belum sampai jadi pengemis! dan yang kamu lakukan sekarang bikin aku keliatan seperti gelandangan yang mengemis belas kasihan orang-orang "